Feeds:
Posts
Comments

An Education

“Some people dance in the rain, others just get wet.

See me, I am a harmony-seeking idealist.

The butterflies.

The hurricanes.

Easy, I make my own path, Bellemere.

And I will never give up.

I throw away my useless pride.

Clearly, I will simply find my pride and joy.”

GRAVITASI

GRAVITASI

Euforia fungsi otak…

Meromantikkan segala hal…

Seperti gravitasi…

Kau buat aku jatuh…

Jatuh cinta kepadamu…

Hm, yang di atas itu puisi pertama yang Seno buat pas jam-jam terakhir ulangan Bahasa Indonesia waktu kelas X sekitar tahun 2007. Simpel, kan? Emang, tapi pas Seno pulang ke rumah dan baca sekali lagi puisi buatan Seno itu, agak kagum sendiri juga sama puisi itu. Baru kali itu Seno dapet inspirasi analogi yang sederhana tentang cinta. Nyamain cinta sama gravitasi, keren kan? Dan sampai sekarang, Seno ga pernah dapet mood lagi buat nulis puisi sesimpel puisi “Gravitasi” di atas, mungkin harus ulangan Bahasa Indonesia lagi kali ya? Haha.

Well, ini kayanya bakal jadi tulisan pertama Seno tentang cinta. Selain karena tiba-tiba memori di otak Seno memfilmkan lagi puisi “Gravitasi”, kedua ya karena, simply, Seno lagi merasakan “Gravitasi” itu. Ya, Seno lagi jatuh cinta. Jarang-jarang loh Seno jatuh cinta. Haha. Nanti bakal Seno kasih tahu siapa “Gravitasi” Seno.

Sebelum Seno kasih tau siapa “Gravitasi” Seno, Seno cerita-cerita dulu deh sedikit tentang yang namanya cinta.

Beberapa minggu kemarin Seno iseng-iseng beli buku Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret, isinya 25 bentuk surat cinta bikinan penulis-penulis Indonesia, Seno penasaran sekaligus ngerasa kangen juga sama yang namanya surat cinta. Dan setelah Seno baca, ternyata isinya bagus-bagus loh, semuanya romantis dalam versi masing-masing, variatif tapi sentralnya tetep satu, tentang cinta. Seno pun sedikit banyak dapat inspirasi yang berkesan dari buku Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret itu. Dan kenapa Seno ngerasa kangen sama yang namanya surat cinta?

Kembali ke sekitar 7 tahun lalu waktu Seno kelas 5 SD, pertama kali Seno punya pacar, cinta monyet tepatnya dan sepertinya itu bentuk pacaran paling lucu di dunia. Haha. Seno sama pacar Seno itu tetanggaan, satu sekolah, dan satu kelas. Kita pacaran. Tapi, walaupun kita tetanggaan, satu sekolah, dan malahan satu kelas, kita jarang banget saling nyapa satu sama lain apalagi bertatap mata, close to never. Haha. Malu-malu kucing pisan lah kita waktu itu. Yang namanya duduk bersebalahan apalagi jalan berduaan apalagi pegangan tangan itu sakral banget, sangat-sangat sakral.

Di sisi lain, dengan malu-malunya kita untuk sekedar kontak fisik, kita dapet feel lain buat tetap ngejaga perasaan kita di mana kita berdua lebih berani berbicara. Feel lain itu berbentuk surat cinta. Lucu banget waktu itu cara kita surat-suratan. Surat cinta itu sampai ke tangan kita lewat temen-temen deket, surat cinta kita kadang-kadang pake bahasa Indonesia, kadang pake bahasa Sunda, atau kadang campuran. Lucu banget. Haha.Di surat itu tersurat dan tersirat perasaan cinta Seno dan dia yang masih polos dan romantis praktis. Haha.

Dan sampai sekarang, surat-surat itu masih Seno simpen di lemari Seno, lengkap dengan amplop-amplopnya yang beraneka warna. Haha. Adalah selalu menyenangkan untuk kita kala nanti saat kita tua membuka-buka dan membaca-baca lagi dokumentasi riwayat hidup kita kala muda, apalagi riwayat cinta kita. Haha.

Well, bentuk pengungkapan cinta itu bisa dengan berbagai rupa lah, dan bisa oleh siapa saja untuk siapa saja. Kurt Cobain misalnya, seorang rockstar yang lirik-lirik lagunya kebanyakan bersifat depresif, dalam lagu “Heart-Shaped Box” Kurt mengungkapkan perasaan cintanya dengan versinya sendiri, “I wish I could eat your cancer when you turn black.” Itu adalah bentuk pengungkapan “I love you!” terpanjang dari semua lirik yang pernah Seno baca selama ini. Dan bagaimana dengan Seno sendiri?

Seno sendiri ngungkapin perasaan cinta Seno dengan sangat simpel, Seno bilang, “There’s only 1 thing, 2 do, 3 words, 4 you, I love you…” Dan dia juga jelas cinta sama Seno donk, cinta banget lah dia sama Seno. Haha. Oiya, FYI, “dia” itu ya pacar Seno sekarang, “dia” itu “Gravitasi” Seno sekarang. Namanya Fitta Putri Andryan.

I will fly...

I will fly...

Haaah, yang namanya cinta yah, memang kaya gravitasi, ga bisa kita lawan karena dia selalu menang, dia selalu menang di hati kita, selalu menang. Seno & Fitta itu dua pribadi yang berbeda, malah cenderung antonim. Yang satu agak childish, yang satu mature. Yang satu cenderung egois, yang satu cenderung altruis. Yang satu cuek, yang satu sensitif. Dan antonim-antonim lainnya. Tapi di atas semua antonim-antonim itu ada satu sinonim besar yang ngalahin semua antonim yang ada. Sinonim besar itu berbentuk perasaan, perasaan yang disebut cinta.

Seno ini orangnya cuek, kurang peka sama perasaan orang lain, bahkan sama perasaan Fitta juga gitu. Bareng Fitta jadi belajar sedikit peka sama perasaan orang lain, at least sama perasaan Fitta. Seno ini orangnya agak childish. Bareng Fitta jadi belajar sedikit lebih dewasa. Kadang-kadang Fitta bikin Seno cemburu, kadang-kadang juga Seno yang bikin Fitta cemburu. Kadang-kadang Fitta ga sadar bikin sebel Seno, kadang-kadang juga Seno ga sadar bikin sebel Fitta sampai Fitta baeud. Intinya, mereka yang kita sayangi memang yang paling mampu melukai. Tapi, luka itu harusnya ga hidup lama, ada cinta yang menetralisasinya dengan pikiran positif, dan hasilnya adalah batu pijakan yang ngebuat kita jadi pasangan lebih baik.

Well, cinta itu bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna dan tanpa cela. You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly. Terlepas dari sempurna dan tidak sempurnanya Fitta, yang jelas, Fitta spesial buat Seno. Haha.

And simply, I will still love Fitta for tomorrow…

Kampus FK UI

Kampus FK UI

Banyak orang yang di masa kecilnya memiliki cita-cita menjadi dokter, diplomat, tentara, pemain sepak bola profesional, presiden, dan cita-cita besar lainnya, namun kemudian berubah. Berubah saat kita harus benar-benar memutuskan akan menjadi apa diri kita di masa depan. Berubah karena berbagai alasan yang membuat kita harus menyerah. Bahkan ada yang bilang, berubah karena takdir. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak berlaku untuk saya. Takdir itu bukan ditentukan, takdir itu adalah pilihan.

Entah kapan saya mulai memiliki cita-cita seperti ini, yang jelas, saya tidak pernah berpikir sekali pun untuk menyerahkan cita-cita saya, menjadi seorang dokter. Sebenarnya sudah dari kecil saya mengarsiteki masa depan saya, namun saya baru benar-benar serius mengarsitekinya saat saya menginjak kelas 3 SMA.

Fokus, konsentrasi pada cita-cita bisa dibilang merupakan kekuatan besar untuk bisa meraih cita-cita itu. Prestasi saya cukup memuaskan, selama 2 semester di kelas 1 saya berhasil beradaptasi dengan lingkungan, dan berhasil menjadi juara kelas dengan gemilang. Di kelas 1 ini saya sangat puas dengan pencapaian yang saya raih karena saya bisa mengalahkan 2 orang rival saya sejak SMP, Tito Prakasa dan Nurul Dela, dengan sportif. Dan sepertinya rivalitas kami bertiga akan berlangsung selamanya. Kami adalah rival-rival abadi yang bersaing seimbang dan berteman satu sama lain, sangat menyenangkan. Ha-Ha-Ha!

Menginjak kelas 2 SMA saat semua pelajaran menjadi semakin sulit, dan saya pun dihadapkan dengan bobroknya sistem pengajaran beberapa guru eksak saya, saya tetap bertahan, tetap fokus dan jalan terus.

Saya bisa dibilang beruntung karena di kelas 2 SMA ini saya mendapat kekuatan besar untuk menghadapi kebobrokan sistem ini dari seorang guru Biologi saya. Seorang guru muda dengan idealisme tinggi yang selalu mengingatkan saya akan kekuatan pikiran, kekuatan pikiran untuk selalu optimis mengejar mimpi-mimpi, mimpi-mimpi yang bahkan rasanya mustahil untuk diwujudkan. Beliau adalah Ibu Sinta, guru terhebat sepanjang masa kalau saya boleh jujur.

Saat saya menceritakan cita-cita saya kepada Beliau untuk melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran UNPAD, Beliau malah menyarankan saya untuk mencoba menjajal kemampuan saya untuk melanjutkan ke Fakultas Kedokteran UI. Wah, hal yang rasanya benar-benar mustahil!

Beliau bilang, “Kalau kamu punya target yang lebih tinggi dari cita-cita kamu, dan kamu sungguh-sungguh belajar lebih daripada yang kamu lakukan untuk cita-cita kamu, maka yang namanya keberhasilan itu akan mengikuti dengan sendirinya.” What a gorgeous words!

Saya pun seketika memutuskan akan menjajal kemampuan saya di PPKB UI 2009, yang notabene belum pernah bisa ditembus oleh siswa sekolah saya selama 10 tahun, dan SIMAK UI 2009, dengan pilihan pertama Fakultas Kedokteran. God yes, saya tak pernah beralih dari cita-cita saya! Alasan lain selain karena saya fokus ingin menjadi dokter adalah karena saya sama sekali tidak punya cita-cita cadangan. What a fool! Ha-Ha-Ha! Hasilnya di kelas 2 SMA ini pun saya berhasil menjadi juara kelas, walaupun dengan agak susah payah. Ha-Ha-Ha!

Memasuki kelas 3 semester pertama, yang merupakan prasyarat akademik terakhir untuk PPKB UI 2009, saya berhasil menjaga prestasi saya sebagai juara kelas, dan akhirnya saya pun tinggal menunggu surat undangan PPKB UI 2009.

Akhirnya surat undangan itu pun datang, saya dipanggil ke ruang BK untuk diberitahukan mengenai syarat-syarat untuk PPKB UI 2009. Oh ya, sebelum mendapatkan secara resmi surat undangan dari UI itu, saya diseleksi dulu di tingkat sekolah. Kira-kira ada 8 orang yang mendaftar saat itu, sementara undangan yang tersedia hanya 4. Yang akan mendapatkan undangan PPKB UI 2009 adalah 4 siswa yang memiliki grafik rapor terbaik selama 5 semester. Dan keempat orang itu adalah saya, Tito, Dela, dan Dewi. Setelah terpilih, kami berempat dinasihati dulu agar jangan salah memilih jurusan, karena jika nanti seandainya kami lolos PPKB UI 2009 dan tidak diambil, maka akan mempermalukan nama sekolah! Intinya, jangan menjadikan PPKB UI 2009 sebagai cadangan!

Pilihan pun diutarakan, Dewi memilih Psikologi, Dela memilih Teknik Kimia. Guru BK bilang peluang mereka berdua lolos PPKB UI 2009 ini sangatlah besar jika melihat nilai rapor dan prestasi mereka. Sedangkan saya dan Tito, saya memilih Pendidikan Dokter, Tito memilih Ilmu Komputer. Guru BK bilang hampir mustahil kami berdua lolos PPKB UI 2009, dan malahan Guru BK itu menyarankan agar kami memberikan surat undangan PPKB UI 2009 kami kepada siswa lain yang akan memilih fakultas dengan passing grade yang lebih rendah. Oh my God! Bisa dibilang memilih fakultas dengan passing grade tertinggi di UI, KAMI SAMA SAJA DENGAN BUNUH DIRI!

Fyuh, tapi dasarnya kami adalah orang-orang tercuek, kami berdua tetap keukeuh dengan pilihan kami. Guru BK itu hanya tersenyum kecil meremehkan, seolah berharap bisa tersenyum lebih lebar saat nanti keluar surat pengumuman PPKB UI 2009 yang menyatakan kami tidak lolos PPKB UI 2009, dan menyeringai “Apa Ibu bilang.”. Ah, whatever lah! Saya tetap tanamkan dalam pikiran saya, peluang 0,0000000000001% tetap adalah sebuah peluang. Possibility is infinite.

Cukup lama juga saya menunggu pengumuman PPKB UI 2009. Walaupun tidak terlalu berharap, tetap saja saya penasaran. He-He-He. Hari-hari saya selama menunggu itu diisi dengan stress menghadapi SIMAK UI 2009. Menunggu. Belajar. Stress. Refreshing. Menunggu. Belajar. Stress. Refreshing. Menuggu. Belajar. Stress. Refreshing. Seperti itulah, seperti hidup dalam kurungan lingkaran, monoton, membosankan. Gelap.

Dan akhirnya datanglah terang di hari itu.

Hari itu hari Selasa, saya berangkat ke sekolah dengan pikiran agak stress menghadapi PRA-UN Kimia versi non-formal. PRA-UN saya kerjakan dengan asal saja, ingin cepat pulang dan tidur. Sesampainya di rumah, saya mendapat telepon dari Bu Sinta:

Seno : “Assalamu’alaikum, Bu.”

Bu Sinta : “Wa’alikumsalam.”

Seno : “Ada apa, Bu?”

Bu Sinta : “Kamu semalam mimpi apa, Sen?”

Seno : “Hah? Gak mimpi apa-apa, Bu. Emang kenapa, Bu?”

Bu Sinta : “Bener nih ga mimpi apa-apa? Eh, kamu ikut PMDK apa aja, Sen?”

Seno : “Hmmm…PMDK UI aja, Bu, kan nurut sama kata Ibu.”

Bu Sinta : “Bener nih nurut sama Ibu? Milih fakulas apa, Sen?”

Seno : “Kedokteran dong, Bu. Tapi ga terlalu berharap sih, Bu.”

Bu Sinta : “Bagus deh kalo kamu nurut. Ada berita buat kamu, mau tau?”

Seno : “Boleh, deh. Berita apaan, Bu?”

Bu Sinta : “Bener nih mau Ibu kasih tau?”

Seno : “Iya, apaan gitu?”

Bu Sinta : “Beneran pengen tau?”

Seno : “Iya Bu, apaan sih beritanya?”

Bu Sinta : “Beneran pengen tau, nih?”

Seno : “Yah Ibu, Seno tutup nih teleponnya!”

Bu Sinta : “He-He-He, iya deh Ibu kasih tau.”

Seno : “Apaan, Bu?”

Bu Sinta : “KAMU-KETERIMA-DI-FK-UI!”

Seno : “…………………”

Speechless. Sumpah, saat itu saya benar-benar speechless. Diam. Tidak bisa bereskpresi. Kaget. Setengah tidak percaya. Namun, bahagia.

Percakapan selanjutnya pun adalah saya yang mendominasi dengan pertanyaan “Ah, yang bener, Bu?”, “Serius?”, “Ga bohong kan, Bu?”, dsb. Beliau pun tampaknya agak kewalahan dengan pertanyaan saya yang intinya sama saja, TIDAK PERCAYA! Ha-Ha-Ha! Akhirnya Beliau pun menyarankan agar saya dan Ibu saya bergegas ke sekolah untuk melihat sendiri surat pengumuman PPKB UI 2009. Saya pun segera berangkat dengan Ibu saya untuk melihat sendiri surat keramat pengumuman PPKB UI 2009 itu. Ha-Ha-Ha!

Sampai di sekolah, saya berhasil melihat sendiri surat pengumuman PPKB UI 2009 itu. Dan ternyata bukan saya saja yang diterima di UI. Kami berempat, saya, Tito, Dela, dan Dewi berhasil lolos ke UI, sangat menyenangkan bisa satu universitas lagi dengan Tito dan Dela, rival-rival abadi ini. Ha-Ha-Ha!

Segera saya fotokopi dan langsung saya bergegas kembali pulang ke rumah bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Bermilyar rasa syukur saya panjatkan ke Tuhan Yang Maha Esa. Tidak menangis, hanya sepenuhnya bahagia. Alhamdulillah. Saya lega. Alhamdulillah.

Esok paginya di sekolah, saya dan Tito bercakap-cakap mengenai penerimaan kami berdua di UI. Sepakatnya, kami berdua seperti tokoh rockstar bernama Ryusuke dalam manga BECK. Kami memenangkan taruhan bodoh yang kami buat sendiri, taruhan bodoh yang rasanya sangat mustahil dimenangkan. Tapi, kami memenangkannya.

Saya memenangkan taruhan bodoh yang saya buat sendiri, taruhan yang rasanya sangat mustahil dimenangkan.

Mungkin ini adalah keajaiban. Saya sangat senang mendapatkan keajaiban, merasakan keajaiban. Tapi saya yakin, keajaiban itu tidak akan datang dengan sendirinya tanpa kita berusaha mendorong kemampuan kita sendiri sampai batas maksimal. Ha-Ha-Ha!

Well now, the rest last thing I will face in Senior High School, will be the Final Examination of 2009.

I’ll do my bestest! Wish me well, people!

And, see ya, Medical Faculty of University of Indonesia!

Older Posts »